Klarifikasi.org | Sampang – Pemerintah Kabupaten Sampang terus menunjukkan kepemimpinan yang kuat dalam memadukan nilai-nilai keagamaan dengan program pembangunan daerah. Malam Jumat lalu, acara Istighosah dan Sholawatan rutin bulanan sukses diselenggarakan dengan khidmat dan penuh antusiasme. Kegiatan yang digagas langsung oleh Bupati Sampang ini berjalan lancar meski Bupati sedang melaksanakan tugas dinas di luar kota.
Acara yang digelar pada malam Jumat Manis ini menjadi bukti nyata komitmen Pemerintah Kabupaten Sampang dalam memakmurkan wilayah melalui jalur spiritual. Berbagai elemen masyarakat hadir, mulai dari para kyai, ustaz, tokoh agama, hingga perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), camat, lurah, dan komunitas sarungan. Kehadiran mereka menunjukkan soliditas antara pemerintah daerah, ulama, dan masyarakat dalam mendorong kemajuan Sampang.
Kabag Kesra yang mewakili Bupati Sampang menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan rutin ini. “Alhamdulillah pada malam hari ini kita bisa melaksanakan kegiatan rutin tiap bulan, Istighosah dan Pembacaan Sholawat. Ini merupakan gagasan dari Pak Bupati Sampang H. Slamet Junaidi,” katanya.
Ia juga menjelaskan bahwa Bupati sangat mendukung kegiatan keagamaan seperti santunan yatim, istighosah, pembacaan Sholawat Nariyah, serta kegiatan keagamaan lainnya. Bahkan, meski berhalangan hadir, Bupati memastikan acara tetap berlangsung sesuai jadwal, yakni hari Kamis malam Jumat Manis.
Pemerintah Kabupaten Sampang melalui acara ini tidak hanya fokus pada aspek ritual, tetapi juga mengingatkan masyarakat akan akar sejarah daerah. Dalam sambutannya, Kabag Kesra menguraikan sejarah panjang Kabupaten Sampang yang lahir pada 23 Desember 1624. Saat itu, Raden Praseno atau Cakraningrat I dilantik sebagai Adipati oleh Sultan Agung Mataram untuk memerintah Madura Barat dengan pusat di Sampang.
“Dari turunan Raden Praseno inilah lahir Pangeran Trunojoyo. Pelantikan Raden Praseno pada tahun 1624 menjadi tonggak lahirnya Kabupaten Sampang,” jelasnya. Ia juga menyebut bukti sejarah berupa Makam Ratu Ibu di Madegan dengan gapura yang bertuliskan angka tahun 1624. Gapura serupa juga dibangun di perbatasan kabupaten di Jrengik dan Camplong, serta gapura masuk Pendopo Bupati Sampang sebagai simbol penghargaan terhadap sejarah tersebut.
Dalam acara Istighosah tersebut, mereka juga bertawassul dengan membacakan Al-Fatihah yang dihadiahkan kepada pendiri Kabupaten Sampang. Semua yang pernah menjabat sebagai Bupati Sampang, baik yang telah meninggal maupun yang masih hidup, didoakan dan dikirimkan Al-Fatihah.
“Bagaimanapun mereka (para pendahulu) juga ikut membangun Kabupaten Sampang ini. Kita sebagai masyarakat wajib tahu sejarah ini,” tegas Kabag Kesra dalam sambutannya. Al-Fatihah dan doa juga dihadiahkan kepada Raden Praseno dan keturunannya, termasuk Pangeran Trunojoyo, sebagai bentuk penghormatan kepada para pendiri lahirnya Kabupaten Sampang.
Dengan pendekatan “jalur langit” melalui doa dan sholawat, diharapkan pembangunan di Kabupaten Sampang semakin maju dan masyarakatnya lebih sejahtera.
Dengan konsistensi penyelenggaraan kegiatan keagamaan seperti ini, Pemerintah Kabupaten Sampang semakin memperkuat posisinya sebagai pemerintahan yang peduli terhadap akar budaya, sejarah, dan nilai-nilai keislaman. Harapan masyarakat semakin besar agar doa-doa yang dipanjatkan membuahkan hasil nyata berupa pembangunan yang merata dan kesejahteraan yang semakin dirasakan seluruh lapisan masyarakat Sampang.
Penulis : Willy
Editor : Badrus









