By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
KlarifikasiKlarifikasi
  • KORUPSI
  • DAERAH
  • KRIMINAL
  • KPK
Reading: Indonesia Peringati Hari Kartini ke-62 : Semangat Emansipasi Perempuan di Era Digital
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
KlarifikasiKlarifikasi
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Nasional
  • Jawa Timur
  • Investigasi
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Opini
  • Tentang Kami
  • Contact
Search
  • KORUPSI
  • DAERAH
  • KRIMINAL
  • KPK
Have an existing account? Sign In
Follow US
Klarifikasi > Blog > Tak Berkategori > Indonesia Peringati Hari Kartini ke-62 : Semangat Emansipasi Perempuan di Era Digital
Tak Berkategori

Indonesia Peringati Hari Kartini ke-62 : Semangat Emansipasi Perempuan di Era Digital

Badrus
Last updated: 29 April 2026 15:24
Badrus - Founder & Pemimpin Umum Klarifikasi.org
1 bulan ago
Share
Ilustrasi Ra Kartini
SHARE

klarifikasi.org/ | Surabaya – Hari ini, Selasa (21/4/2026), seluruh Indonesia memperingati Hari Kartini ke-62. Peringatan ini jatuh tepat pada hari lahir Raden Ajeng Kartini, sosok pahlawan nasional yang dikenal sebagai pelopor emansipasi perempuan di Tanah Air.

Melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 108 Tahun 1964 yang ditandatangani Presiden Soekarno pada 2 Mei 1964, tanggal 21 April ditetapkan sebagai Hari Kartini sekaligus mengukuhkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Meski bukan hari libur nasional, peringatan ini menjadi momentum penting untuk merefleksikan perjuangan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan.

Raden Ajeng Kartini lahir pada 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah, dari keluarga priyayi (bangsawan Jawa). Ayahnya, Raden Mas Adipati Ario Sosoningrat, menjabat sebagai Bupati Jepara. Karena status keluarganya, Kartini sempat mengenyam pendidikan di sekolah Eropa (Europesche Lagere School) hingga usia 12 tahun. Namun, tradisi pingitan saat itu memaksanya tinggal di rumah dan menjalani kehidupan yang terbatas sebagai perempuan Jawa.

Meski demikian, Kartini tidak menyerah. Ia belajar sendiri melalui buku-buku dan surat-menyurat dengan teman-teman Belanda serta tokoh intelektual. Surat-suratnya yang kemudian dibukukan dalam Habis Gelap Terbitlah Terang (Door Duisternis tot Licht) menjadi bukti perjuangannya. Ia menentang tradisi yang merugikan perempuan, seperti pingitan, perkawinan paksa, dan ketidaksetaraan akses pendidikan. Kartini berkeyakinan bahwa pendidikan adalah kunci kemajuan perempuan dan bangsa.

Pada 1903, Kartini menikah dengan Raden Adipati Joyodiningrat, Bupati Rembang. Ia mendapat dukungan suaminya untuk mendirikan sekolah perempuan pertama di Rembang. Sayangnya, perjuangannya terhenti ketika ia meninggal dunia pada 17 September 1904, hanya empat hari setelah melahirkan putra pertamanya, Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat. Ia wafat di usia 25 tahun dan dimakamkan di Bulu, Rembang.

Di tengah kemajuan teknologi dan era Industri 5.0, semangat Kartini tetap relevan. Banyak pihak mengusung tema-tema inspiratif untuk peringatan tahun ini, seperti:

– “Kartini Masa Kini: Mewujudkan Terang Baru pada Era Industri 5.0”

-“Literasi Teknologi sebagai Kekuatan Perempuan Modern”

-“Perempuan Berdaya, Masyarakat Sejahtera”

-“Semangat Kartini untuk Kepedulian Sosial dan Inovasi Digital”

 

Berbagai kegiatan digelar di sekolah, kantor, hingga komunitas, mulai dari lomba kebaya modern, seminar pemberdayaan perempuan, pelatihan literasi digital, hingga kampanye kesetaraan gender. Di Surabaya dan berbagai daerah di Jawa Timur, acara sering diisi dengan pagelaran budaya, diskusi, serta penghargaan bagi perempuan berprestasi di bidang pendidikan, ekonomi, dan sosial.

 

“Habis gelap terbitlah terang,” kalimat ikonik Kartini, kini menjadi pengingat bahwa perjuangan belum selesai. Meski perempuan Indonesia telah banyak mencapai kemajuan – dari pemimpin perusahaan hingga tokoh politik – masih ada tantangan seperti kesenjangan gender di dunia kerja, kekerasan berbasis gender, dan akses pendidikan di daerah terpencil.

Peringatan Hari Kartini mengajak semua pihak, baik laki-laki maupun perempuan, untuk terus melanjutkan perjuangan tersebut. Bukan hanya memakai kebaya sekali setahun, melainkan menerapkan nilai-nilai emansipasi dalam kehidupan sehari-hari: menghargai perempuan, mendukung pendidikan, dan menciptakan ruang yang setara.

Seperti yang sering disampaikan, Kartini bukan hanya milik perempuan, melainkan inspirasi bagi seluruh bangsa. Di tahun 2026 ini, semangatnya diharapkan terus menyala, menerangi jalan menuju Indonesia yang lebih maju, adil, dan sejahtera bagi semua.

 

Selamat Hari Kartini!

Perempuan berdaya, bangsa berjaya.

 

 

Tim/Red

You Might Also Like

DPP Madura Asli Sedarah Cabut SK Sampang
Sidang Praperadilan Wartawan Amir Dimulai di Mojokerto
Kapolri Larang Anggota Polri Live di Medsos Saat Bertugas, Ini Dasar Hukum & Sanksinya
Desak Transparansi Total! APMP Jatim Serahkan Bukti Baru Korupsi Rp297 Miliar RSUD Dr. Soetomo
TAGGED:Ra Kartini
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Email Print
ByBadrus
Founder & Pemimpin Umum Klarifikasi.org
Follow:
Badrus Sholeh Ruddin - Founder & Pemimpin Umum Klarifikasi.org. Investigative journalist focused on East Java affairs, corruption, and legal cases. Contact: WA 0817217847
Previous Article MBG B3 di Sampang Diduga Basi, Warga Desa Kemuning Gaduh
Next Article PMII Sampang Demo DPRD : Dampak Galian C Sudah Tak Bisa Ditoleransi
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Klarifikasi

“Cari fakta, bukan asumsi. Verifikasi sebelum percaya, klarifikasi sebelum menyebarkan.”

🛑 Link Cepat
  • KORUPSI
  • DAERAH
  • KRIMINAL
  • KPK
🛑 Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • About us
  • Terms of Service
  • Contact

© 2026 Klarifikasi.org. Seluruh hak cipta dilindungi. Informasi yang disajikan ditujukan untuk edukasi dan literasi publik.