Klarifikasi news | Jakarta – Dalam suasana duka dan ketidakpastian yang masih menyelimuti keluarga serta rekan sejawat, Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Wartawan Indonesia (DPP AWI) kembali menegaskan sikap institusionalnya: doa yang dipanjatkan bukanlah formalitas belaka, melainkan bagian dari ikhtiar kolektif profesi jurnalistik yang menuntut akuntabilitas pencarian maksimal.
Klarifikasi diperlukan agar publik tidak terjebak dalam narasi yang menyederhanakan peristiwa. Lima jurnalis—M. Bagus Khoirunnas (Antara), Ari Basuki (Merdeka.com), Yudistiro Pranoto (iNews), Firdaus Wajidi/Daus (Anadolu Agency), dan Donal Husni (freelance)—bersama tiga awak kapal (Warta selaku kapten, Surakman sebagai ABK, dan Heriyanto sebagai pemandu) hilang kontak sejak Senin, 7 September 2026, sekitar pukul 15.04 WIB. Mereka bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, menggunakan speedboat Arupadhatu 1 untuk meliput aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. Komunikasi terakhir tercatat pukul 14.42 WIB saat salah satu anggota rombongan mengirim lokasi, diikuti indikasi posisi di sekitar gunung pada sore harinya.
Operasi pencarian yang digelar Basarnas, TNI AL, Polri, dan unsur terkait telah memasuki fase kritis. Hingga hari ketujuh (14 September), hasil masih nihil meskipun area penyisiran diperluas, ditemukan beberapa life jacket, dan dikerahkan kapal, helikopter, serta drone. Kendala gelombang, jarak pandang, serta aktivitas vulkanik yang masih berlangsung menjadi tantangan nyata di lapangan.
Dalam konteks ini, pernyataan dan doa yang disampaikan DPP AWI harus dibaca sebagai klarifikasi posisi organisasi: profesi jurnalistik tidak boleh dibiarkan menanggung risiko ekstrem tanpa dukungan sistemik yang memadai. Liputan bencana alam, khususnya di zona berbahaya seperti radius larangan di sekitar Anak Krakatau, menuntut protokol keselamatan yang lebih ketat, koordinasi antar-media, dan dukungan logistik dari negara. Doa yang dipanjatkan adalah pengingat moral bahwa rekan-rekan ini menjalankan tugas publik—memberikan informasi akurat kepada masyarakat—bukan sekadar petualangan pribadi.
Editorial ini menegaskan tiga poin klarifikasi:
1. Status mereka masih “dalam pencarian”, bukan dinyatakan meninggal. Setiap spekulasi prematur hanya menambah beban keluarga.
2. Solidaritas lintas organisasi (AWI, AJI, PWI, IJTI, PFI, dan lainnya) yang menggelar doa di berbagai daerah merupakan bentuk tekanan moral agar operasi SAR tetap optimal dan transparan.
3. Profesi jurnalistik membutuhkan evaluasi menyeluruh terhadap standar keselamatan liputan di kawasan bencana. Risiko yang dihadapi Bagus, Ari, Yudhis, Daus, dan Donal seharusnya menjadi momentum perbaikan, bukan sekadar cerita tragis.
Pena Insight menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga kedelapan orang yang masih dicari. Semoga mereka segera ditemukan dalam keadaan selamat. Doa terus dipanjatkan, namun doa saja tidak cukup. Negara, media, dan organisasi profesi wajib memastikan bahwa setiap jurnalis yang turun ke lapangan dilindungi secara memadai.
Salam jurnalisme yang bertanggung jawab.
TI





