Klarifikasi.org | Bangkalan – Warga Kecamatan Tragah, khususnya di Desa Soket Laok Satu, meluapkan kekecewaan mendalam terhadap pelaksanaan program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) atau dapur gizi yang dikelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Program nasional yang bertujuan menunjang kesehatan balita dan mencegah stunting ini justru diduga mengalami penyelewengan serius. Alih-alih memberikan asupan bergizi segar, balita menerima makanan yang tidak layak konsumsi.
Balita di Dusun Gundul, Desa Soket Laok, Kecamatan Tragah, Kabupaten Bangkalan, menjadi korban langsung. Mereka menemukan buah apel dalam kondisi busuk saat menerima jatah makanan. Lebih parah lagi, sistem distribusi dilakukan dengan cara “dirapel” atau digabung untuk tiga hari sekaligus. Akibatnya, kualitas makanan menurun drastis, banyak yang menjadi basi bahkan busuk sebelum dikonsumsi.
Dapur program berlokasi di Desa Soket Laok Satu, sementara distribusi dilakukan di Soket Gundul. Warga melaporkan bahwa kejadian serupa bukan kali pertama terjadi. Puncaknya baru-baru ini terungkap setelah banyak keluhan warga yang merasa aspirasinya tidak dihiraukan. Diduga ada kelalaian dalam pengawasan, manajemen penyimpanan, dan distribusi oleh pengelola dapur SPPG Soket Laok Satu serta Satgas terkait.
Warga menyoroti bahwa makanan yang seharusnya dikonsumsi harian diberikan sekaligus untuk tiga hari. Tanpa pendingin yang memadai dan penanganan yang tepat, makanan cepat rusak. Hal ini sangat berbahaya bagi balita yang sistem imunnya masih rentan. Risiko keracunan makanan basi mengancam kesehatan dan bahkan nyawa anak-anak kecil.
Masyarakat mendesak agar pihak berwenang segera melakukan evaluasi menyeluruh. Poin-poin kritik tajam dari warga antara lain:
– Evaluasi Kinerja Satgas: Warga menilai Satgas jangan hanya “makan gaji buta”. Mereka diminta segera turun langsung ke lapangan untuk memeriksa kondisi dapur, proses pengolahan, penyimpanan, dan distribusi makanan. (28/04/2026)
– Pertanggungjawaban Pengelola Dapur: Pengelola SPPG di Kecamatan Tragah harus bertanggung jawab penuh atas temuan makanan busuk yang membahayakan balita.
– Transparansi Alokasi Dana : Masyarakat mempertanyakan kemana saja dana program dialokasikan jika makanan yang sampai ke tangan rakyat kecil justru dalam kondisi tidak layak konsumsi.
Salah seorang warga menyampaikan aspirasi dengan tegas: “Jangan hanya duduk di kursi empuk! Nyawa dan kesehatan balita kami dipertaruhkan. Kami minta pihak berwajib segera bertindak sebelum jatuh korban akibat keracunan makanan basi!”
Warga Kecamatan Tragah berharap laporan ini menjadi perhatian serius bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Bangkalan, Badan Gizi Nasional, serta pemerintah daerah. Mereka meminta agar kasus ini diusut tuntas, baik secara administratif maupun hukum jika terbukti ada unsur kelalaian atau penyelewengan.
Program Makanan Bergizi Gratis merupakan upaya mulia pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi anak bangsa. Namun, jika pelaksanaannya di lapangan penuh masalah seperti ini, tujuan mulia tersebut justru berubah menjadi ancaman kesehatan. Evaluasi menyeluruh, pengawasan ketat, dan perbaikan sistem distribusi mutlak diperlukan agar program ini benar-benar bermanfaat, bukan malah merugikan sasaran yang paling rentan.
Warga berharap agar ke depannya tidak ada lagi balita yang menerima makanan busuk atau basi. Kesehatan generasi penerus bangsa tidak boleh dipertaruhkan oleh kelalaian pengelola program.
Laporan ini dapat diteruskan kepada media lokal, Dinas Kesehatan Bangkalan, atau melalui kanal pengaduan resmi Pemerintah Kabupaten Bangkalan agar segera mendapatkan tindak lanjut.
Penulis : Mukri
Editor : Redaksi
